Rabu, 29 Agustus 2012

Seputar Pemakaman Romo Johann Balthasar Casutt SJ.


Saya melanjutkan cerita Romo T. Agus Sriyono, SJ yang dimuat di: 

Komunikasi_KAS@yahoogroups.com; on behalf of; Br Yoanes FC [bruderanygy@gmail.com]

Teman-teman sekalian, meninggalnya Romo Casutt menjadi berita yang mengejutkan bagi para warga Kolese Mikael pada umumnya, dan para alumni pada khususnya. Berita meninggalnya beliau dimuat sejumlah mass media, antara lain Kompas, Solopos. Ada beberapa pengalaman yang menarik dan sayang kalau dilewatkan.

1. Waktu meninggal. Dalam banyak hal, romo ini ingin mandiri dan tidak mau mengganggu orang lain. Demikian juga dengan saat kematiannya. Romo Casutt sepertinya sudah tahu "kapan saatnya tiba". Ternyata hari yang dipilih adalah Jumat Kliwon, 24 Agustus 2012, jam 18:40.  Kebetulan saja berbarengan dengan lebaran usai dan pemudik memulai arus balik kembali ke tempat kerjanya. Bagi warga kolese Mikael, secara akademik hari itu adalah libur sekolah. Nampaknya Romo Casutt lebih memilih waktu itu supaya tidak mengganggu waktu kerja warga Kolese Mikael.

2. Keterlibatan seluruh warga Kolese Mikael. Sebetulnya waktu beliau meninggal kampus Mikael cukup sepi, sebab memang masih hari libur. Hanya ada beberapa karyawan yang masuk malam, dan sejumlah mahasiswa sering kumpul-kumpul di ruang serbaguna. Namun begitu ada berita kematian itu, mendadak ruang serba guna menjadi ajang gotong royong untuk menyambut jenasah Romo Casutt. Karyawan yang sedang bekerja di bengkel segera meninggalkan ruang kerja dan langsung mengubah ruang serba guna menjadi tempat persemayaman romo Casutt. Ada yang menyapu, mengepel, mencari karpet, dsb. Sementara itu karyawan putri berdatangan, mempersiapkan kopi, teh, snak dan segala macam konsumsi yang diperlukan. Para instruktur dengan cepat memberitahu alumni dan rekan kerja dengan segala jejaring sosial, Facebook, SMS, email, dsb. Para mahasiswa anggota koor segera latihan koor untuk misa Requiem dari Sabtu sampai Senin siang. Seluruh warga Kolese terlibat dan  ingin memberikan yang terbaik kepada orang yang dihormatinya.

3. Acara layatan seperti reuni. Umumnya layatan disertai oleh rasa sedih dan duka. Namun layatan kemarin rasanya seperti reuni. Angkatan demi angkatan berdatangan dari yang sudah pensiun sampai mereka yang masih sekolah aktif. Para alumni yang berasal dari berbagi tempat jauh satu persatu berdoa dan memberi hormat kepada Romo Casutt yang sudah berbaring di peti. Setelah doa singkat, segera mereka mengobrol dengan teman angkatan. Mereka nampak senang bisa ketemu dengan teman lama, yang setelah sekian tahun tidak berjumpa, kini dipertemukan lagi bersama dengan mantan direkturnya. Ada alumni yang sengaja naik motor dari Jawa Timur, hanya untuk melayat Romo Casutt dan bisa ketemu teman angkatannya.

Toko bunga di Solo habis diborong untuk Romo Casutt. Menurut informasi, sejak Jumat malam sampai Minggu malam, toko bunga Solo kehabisan stok bunga. Dan ternyata semuanya dipesan oleh pelanggan untuk Romo Casutt. Para pemesan terpaksa harus antri satu persatu karena begitu banyaknya pesanan. Sampai Minggu malam ada sekitar 170 bunga duka yang dikirim ke Kolese Mikael. Bunga-bunga itu dijejer sepanjang jalan kampus, dan jalan Mojo. Sejumlah bunga duka dikirim dari alumni per angkatan. Ada beberapa tukang becak yang sehari itu terpaksa bolak-balik ke kampus sampai 4x, untuk mengantar bunga duka.

4. Peti jenasah diarak keliling bengkel. Hari Jumat pagi Romo Casutt sempat keliling bengkel seperti biasanya. Nampaknya itu adalah visitasi beliau sebelum menghadap BapaNya. Saat pemberangkatan peti jenasah ke Girisonta, para karyawan sangat ingin bahwa romo Casutt mengelingi bengkel sebelum dimasukkan ke mobil ambulan. Dan terjadilah. Setelah upacara brobosan, para instruktur secara bergiliran menggotong peti dan mengarak peti keliling bengkel, Guest House. Itulah Romo Casutt mengelilingi bengkel ATMI untuk yang terakhir kalinya.

Homili dan sambutan diakhiri dengan tepuk tangan meriah. Baik homili maupun sambutan mengungkapkan apresiasi Romo Casutt yang dengan penuh dedikasi dan cinta kepada karyawan dan mahasiswa. Tiap kali alumni memberikan sambutan, tepuk tangan meriah menghiasi ruangan. Apalagi ada satu alumni yang saat ini bekerja sebagai staf direksi di satu perusahaan, bercerita saat menjadi mahasiswa. Ia bercerita dengan bangga, bagaimana mengambail buah di kebun Guest House, dan terus diganjar kompensasi 60 jam oleh Romo Casutt. Sharingnya itu tentu langsung disambut dengan tawa lebar dan tepuk tangan meriah.

5. Keterlibatan Pemerintah Kota Surakarta. Hari Sabtu malam ada rapat panitya untuk mempersiapkan acara Minggu dan misa requiem di Girisonta hari Senin. Rapat dihadiri oleh karyawan dan sejumlah alumni yang sudah datang melayat sejak Jumat malam. Peserta rapat sekitar 25 orang. Di tengah-tengah rapat datanglah Bapak FX Hadi Rudyatmo, wakil walikota Solo. Tentu saja ini tidak terduga. Saat pemimpin rapat membuat daftar kegiatan acara, beliaunya langsung menyediakan diri untuk membantu secara total. Bantuan akan diberikan mulai dari memberi sambutan resmi atas nama Pemerintah Kota Surakarta, memimpin acara brobosan, menyediakan Polisi DLLAJ sebagai voreijder, bis, dan truk pengangkut bunga. Dan terjadilah demikian. Saat mengantar peti jenasah ke Girisonta pada hari Minggu siang, jarak Solo Girisonta yang masih penuh dengan kendaraan mudik bisa ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam. Demikian juga saat layatan hari Senin 27 Agustus. 8 bus dan sejumlah mobil berangkat ke Girisonta dikawal oleh mobil polisi. Perjalanan pun lancar dan bebas hambatan.

6. Alat penurun peti jenasah yang baru. Untuk memudahkan penurunan peti jenasah ke liang lahat, komunitas Girisonta memesan satu mesin yang fungsinya untuk itu. Mesin ini masih baru dan belum pernah dipakai. Para karyawan Girisonta sempat agak panik kalau penggunaan mesin itu tidak lancar. Sebab pemakainya yang pertama adalah si Empu mesin. Para instruktur ATMI pun dibuat cemas untuk hal yang sama, jangan-jangan mesin tidak berfungsi normal saat dipakai untuk menurunkan peti jenasah Romo Casutt. Akhirnya tim ATMI dikirim ke Girisonta untuk latihan. Hasilnya, mesin berfungsi sangat baik. Upacara menurunkan peti jenasah hanya membutuhkan waktu 1,5 menit. Kayaknya Romo Casutt sendirilah yang harus mengecek kualitas alat penurun peti jenasah ini.

7. Tabur bunga digilir per unit kerja. Saat pemakaman, tidak ada keluarga dari Rm Casutt yang hadir. Tetapi semua orang yakin bahwa dia adalah milik keluarga Kolese Mikael. Apalagi dia sudah minta aplikasi menjadi WNI sejak 1962. Beliaunya tinggal di Indonesia lebih lama daripada semua warga Kolese Mikael saat ini. Oleh karena itu saat tabur bunga di makam, semua unit kerja diberi kesempatan untuk menaburkan bunga. Unit kerja itu meliputi ATMI Solo, SMK Mikael, ATMI Cikarang, Bizdec dan Solo Techno Park.

8. Acara Cleaning di Girisonta. Adalah kebiasaan di Kolese Mikael untuk bersih-bersih sebelum pulang. Kebiasaan inipun berlaku saat di Girisonta. Setelah makan siang, sejumlah karyawan, mahasiswa dan siswa langsung ikut bersih-bersih. Para karyawan putri ikut mencuci piring di ruang cuci piring. Para karyawan putra, mahasiswa dan siswa ikut bersih-bersih di ruang makan, dan halaman kebun. Sejumlah plastik besar dan kotak sampah sudah disiapkan. Maklum saja, jumlah makanan yang dipesan saat hari pemakaman 1200 porsi. Dan ternyata jumlah ini masih kurang. Romo minister Girisonta pun terpaksa tambah pesanan lagi. Itu berarti jumlah pelayat memang cukup banyak. Untunglah kegiatan bersih-bersih ini bisa mengurangi sampah yang berserakan oleh banyaknya pelayat.

9. Kelompok koor Vitalis. Kelompok koor ini terdiri dari para mahasiswa dan dipimpin oleh alumni yang saat ini menjadi karyawan. Kelompok ini bertugas saat misa baik di Kampus Mikael, maupun di Girisonta. Mereka masih bertugas lagi saat tuguran dan upacara pemakaman. Lagu-lagu yang dipilih tentu berbeda dengan lagu-lagu yang terdapat di buku misa requiem Girisonta. Ada lagu yang sengaja dipilih untuk menghormati romo Casutt. Lagu itu aslinya berbahasa Jerman "Lasst mich gehen, dass ich Jesum muge sehen", tetapi ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia "Aku rindu akan Tuhan". Mereka masih akan bertugas saat peringatan 7, 40, 100, sampai ke 1000 hari. Keterlibatan mereka membuat suasana misa menjadi lebih agung, khusuk dan tentu saja liturgis.

10. Terbentuknya Casutt's foundation. Saat rapat persiapan, panitya memutuskan untuk menyediakan kotak sumbangan. Namun saat kotak itu mau ditempatkan, sejumlah alumni menentangnya. Atas dasar itu, kotak yang sudah dipinjam dari RT batal diletakkan di pintu masuk. Pada misa Minggu siang, kelompok alumni yang lain memprotes, koq tidak ada kotak sumbangan. Ini bertentangan dengan adat jawa. Apalagi sejumlah alumni memang sudah membawa amplop. Setelah runding sana-sini, akhirnya kotak kolekte dipasang lagi. Namun fungsi kotak sumbangan itu berubah. Semula fungsi kotak sumbangan itu dimaksudkan untuk pemakaman. Kini sumbangan akan dipakai untuk beasiswa bagi siswa atau mahasiswa Kolese Mikael yang miskin. Bahkan sumbangan itu akan berkelanjutan. Untuk mewadahi tujuan ini, disepakati untuk dibentuk Casutt's foundation.

Demikian cerita dari Solo.
====================
T. Agus Sriyono, SJ
SMK/ATMI Kolese Mikael
SOLO

Tidak ada komentar: